Seluk-Beluk Tanaman Porang

0
155
tanaman porang
Umbi tanaman porang. Gambar diambil dari pertanian.go.id,

Porang, tanaman penghasil umbi satu ini menjadi tanaman yang saat ini cukup populer di Indonesia. Umbi porang menjadi populer lantaran telah mengubah nasib seorang pemulung di daerah Madiun, Jawa Timur menjadi seorang miliarder. Sebelum menjadi populer seperti sekarang, tanaman porang sebetulnya banyak tumbuh liar di sebagian wilayah Indonesia.

Kementerian Pertanian melalui lamannya mencatat, umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Manfaat dari umbi porang inilah yang menjadikan umbi porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Bahkan, catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lainnya. Namun, umbi porang yang ada saat ini sebagian besar masih berasal dari hutan.

Mengenal Tanaman Porang

Tanaman porang (Amorphopallus oncophillus) merupakan tanaman yang hidup di bawah hutan tropis berdiri. Tanaman ini juga bisa ditanam di daerah dataran rendah yang mudah hidup di bawah tegakan pohon hutan seperti jati dan sono. Di Jawa, tanaman porang dikenal dengan nama iles-iles. Tanaman ini masih sekerabat dengan suweg dan walur yang masih satu marga Amorphopallus, karena itu tanaman porang sering kali dirancukan dengan kedua tanaman tersebut.

Tanaman porang merupakan tanaman semak atau tanaman pendek yang tidak memiliki kayu dan tanamannya bisa tumbuh dengan tinggi mencapai 100-150 cm. Tanaman porang menghasilkan umbi di dalam tanah. Umbi inilah yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia.

Baca: [ Pedoman Budidaya Pisang Menggunakan Benih Hasil Kultur Jaringan ]

Perkembangbiakan Tanaman Porang

Tanaman porang memiliki batang tunggal yang bercabang menjadi tiga cabang sekunder dan bercabang lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap ketiak tangkai daun inilah tumbuh bulbil atau umbi katak berwarna cokelat kehitam-hitaman. Bulbil atau umbi katak yang tumbuh pada ketiak tangkai daun ini yang digunakan sebagai salah satu cara perkembangbiakan tanaman porang. Selain menggunakan bulbil, porang juga dapat berkembang biak dengan menggunakan umbi dan biji.

Budidaya Tanaman Porang

Tanaman porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja dengan ketinggian 0-700 mdpl dan paling baik pada ketinggian 100-600 mdpl. Namun, pada kenyataannya, tanaman porang juga bisa tumbuh pada tanah dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Tanaman porang dapat tumbuh dan berproduksi tinggi pada tanah yang ternaungi. Bahkan dapat tumbuh di bawah tegakan pohon dengan intensitas cahaya matahari berkurang sampai 50 persen.

Salah satu tantangan dalam membudidayakan tanaman porang adalah ritme pertumbuhan tanaman porang yang unik. Tanaman porang mengalami masa aktif pertumbuhan berkisar 4-5 bulan dan mengalami masa dormansi 7-8 bulan. Masa dormansi yang lebih lama daripada masa aktif pertumbuhannya menjadikan produksi umbi terbilang lambat. Salah satu cara agar produksi umbi tanaman porang bisa maksimal adalah dengan memperpanjang masa aktif pertumbuhannya dan memperpendek masa atau periode dormansi.

Baca: [ Pedoman Budidaya Cabai Jawa (Cabai Puyang) ]

Manfaat Umbi Porang

Tanaman porang menghasilkan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan, baik makanan, kosmetik hingga industri. Jika diproses lebih lanjut, porang dapat digunakan sebagai bahan campuran pada industri makanan dan minuman, industri farmasi, kosmetika dan pengobatan. Hasil olahan porang juga dapat dimanfaatkan untuk menjernihkan air dan memurnikan bagian koloid yang terapung pada industri bir, gula, minyak dan serat.

Sebagai salah satu tanaman potensial dengan produksi umbi yang memiliki nilai ekonomi tinggi, wajar jika tanaman porang diminati untuk dibudidayakan. Namun dengan ritme pertumbuhan tanaman porang yang unik-dimana masa dormansinya lebih lama daripada masa pertumbuhan aktifnya, perlu dicari strategi atau solusi budidaya yang efektif. Sehingga produktivitas umbi tanaman porang bisa maksimal dan tentunya akan lebih menguntungkan.

Sumber rujukan:

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh (CPPU) pada Tanaman Porang (Amorphophallus Onchophyllus) di Ketinggian Tempat yang Berbeda, diakses dari laman ristekdikti.go.id pada 31 Oktober 2019.

Video pilihan

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here