Bukit Tidar Magelang, Paku Tanah Jawa dan Asal-Usul Kejawen

0
427
bukit tidar magelang
Dokumentasi acara "Selametan Puser Bumi, Merawat NKRI" yang diselenggarakan di puncak Bukit Tidar atau lokasi Paku Tanah Jawa. (Foto: jatengprov.go.id).

Bukit Tidar atau sering disebut sebagai Gunung Tidar merupakan sebuah bukit yang memiliki ketinggian sekitar 506 mdpl dan berada di wilayah Kota Magelang, Jawa Tengah. Jika dilihat dalam peta Pulau Jawa, lokasi Bukit Tidar tepat berada di tengah Pulau Jawa. Di lembah bukit inilah, para calon perwira TNI Angkatan Darat menjalani penempaan di Akademi Militer (Akmil).

Pada hari-hari tertentu, Bukit Tidar ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Selain peziarah, para wisatawan juga kerap berkunjung ke Bukit Tidar yang menawarkan pesona alam dan sensasi pengalaman naik bukit. Para pengunjung bisa naik ke puncak Bukit Tidar dengan menapaki ratusan anak tangga di bawah rimbunnya hutan pinus yang sejuk dan asri. Di puncak Bukit Tidar terdapat beberapa makam, seperti makam Syekh Subakir, Kyai Sepanjang, dan makam Kyai Semar.

Keberadaan Bukit Tidar di Kota Magelang selama ini erat dikaitkan dengan mitos “Paku Tanah Jawa” atau yang dinamakan “Pakubuwana” (paku bumi). Para penganut mistik kejawen meyakini Bukit Tidar sebagai lokasi ditancapkannya paku penyeimbang atau paku yang mengokohkan Pulau Jawa ketika sedang berguncang. Kepercayaan ini kelak menjadikan Bukit Tidar sebagai titik episentrum atau pusat asal-usul kepercayaan kejawen.

Bukit Tidar dan Mitos Paku Tanah Jawa

Suwardi Endraswara, dalam Mistik Kejawen Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa menyebutkan, cikal bakal kepercayaan kejawen berasal dari kepercayaan masyarakat Jawa terhadap dewa-dewa, salah satunya Dewa Wisnu. Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi (istri Wisnu) pernah diminta turun ke arcapada untuk menjadi nenek moyang di Jawa. Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi Sadono, dan Dewi Laksmi menjelma menjadi Sri.

Pertemuan Sadono dan Sri diyakini terjadi di Bukit Tidar, Magelang. Tempat pertemuan ini kemudian oleh Sadono dan Sri diberi tetenger atau tanda, dengan menancapkan sebuah paku yang kemudian dikenal sebagai paku tanah Jawa. Hal ini dilakukan untuk mengokohkan tanah Jawa yang kala itu sedang guncang, sehingga tanahnya menjadi tenang dan kehidupan masyarakatnya juga menjadi tenang.

Setelah kehidupan di Jawa menjadi tenang, Sadono dan Sri pun memiliki keturunan dalam jumlah yang banyak. Namun, keturunan mereka ada yang memiliki sifat baik dan buruk. Menanggapi hal ini, Batara Guru menyuruh Semar dan Togog ke Bukit Tidar. Semar bertugas mengasuh keturunan Sadono dan Sri yang baik, sementara Togog bertugas mengikuti keturunan Sadono dan Sri yang buruk atau angkara murka.

Cerita pertemuan Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi yang melahirkan keturunan di Jawa inilah kemudian yang menjadi asal-usul kepercayaan kejawen. Kaum kejawen merupakan keturunan orang yang sesungguhnya memiliki tingkat sosial dan kultural yang tinggi, yakni Dewa dan Dewi. Meskipun sebetulnya masing-masing komunitas kejawen di berbagai daerah memiliki mitos yang mereka yakini sendiri. Mitos-mitos tersebut ada yang dijadikan sebagai kiblat hidup, ditaati, dipuja dan mendapatkan tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat kejawen.

Masyarakat kejawen Tengger di Jawa Timur misalnya, mereka memuja tokoh mistis Rara Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal nama Tengger. Masyarakat kejawen Banyuwangi yang menganggap mitos Minak Jingga dan Istrinya, Sita sebagai simbol reproduksi. Begitu pula masyarakat kejawen di Yogyakarta yang sampai saat ini memercayai Ratu Kidul, Sang Penguasa Laut Selatan sebagai representasi kehidupan mistik Panembahan Senapati. Masing-masing mitos ini telah berkembang dan banyak berpengaruh pada kehidupan mistik kejawen. [1]

Baca: [ Mengenal Ragam Motif Batik Khas Magelang ]

Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan

Sudah sejak lama Dewi Sri dikenal sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Pertanian oleh masyarakat Jawa. Kepercayaan terhadap Dewi Sri bahkan telah berkembang luas dan bisa dilihat pada perilaku kehidupan kejawen. Khususnya para petani yang melakukan ritual-ritual pemujaan terhadap Dewi Sri.

Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa menganggap Dewi Sri sebagai makhluk dari surga yang menunjukkan bahwa perempuan diyakini sebagai sumber kehidupan. Perempuan dianggap sebagai ibu kehidupan atau ibu pertiwi, yang menganalogikan antara peran perempuan dalam produksi biologis dan peran pola dasar sebagai pemberi kehidupan dan pencipta segala sesuatu yang ada.

Dewi Sri sebagai sumber kemakmuran ada di bumi untuk memberikan kehidupan melalui biji-biji makanan pokok dalam bentuk beras yang ia bawa dari surga, mengajarkan cara menanam dan merawatnya, bahkan mengajarkan cara menghindari hama yang mengancamnya. Konon, pemuliaan Dewi Sri di Jawa telah berlangsung sejak masa pra Hindu-Budha.

Penggambaran sosok Dewi Sri bisa dilihat pada sebuah arca perunggu yang menjadi salah satu koleksi dari Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Dewi Sri digambarkan dalam posisi duduk di atas padmasana dengan tangan kirinya memegang setangkai padi. Dewi Sri adalah dewi pertanian, penguasa padi, sawah dan ladang yang dipercaya memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi para petani di Jawa.

Meski mitos pemuliaan Dewi Sri telah berlangsung sejak masa pra Hindu-Budha, mitos ini tetap berkembang pada masyarakat Jawa yang sebagian besar telah menganut agama Islam.

Baca: [ Dewi Sri, Dewi Kesuburan Potret Feminitas Budaya Nusantara ]

Sumber rujukan:

[1] Endraswara, Suwardi. 2006. Mistik Kejawen Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Simak video pilihan kami:

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here