Filosofi Bonsai: Seni Adalah Sebuah Kejujuran

0
1113
filosofi bonsai
Rudy Najoan, penulis buku Seni Bonsai Indonesia. Gambar diambil dari goodreads.com.

Bonsai adalah sebuah seni yang sejajar dengan bidang seni lainnya. Bonsai dapat digolongkan dalam seni tiga dimensi yang menggunakan medium berupa makhluk hidup, yakni tanaman. Seni bonsai berkembang cukup pesat di Indonesia karena dipengaruhi oleh beragam faktor. Salah satunya adalah dukungan kesuburan alam dan kekayaan flora tropis yang dimiliki Indonesia.

Selain faktor alam, keberagaman tradisi dan budaya juga berpengaruh dalam penerapan estetika seni bonsai di Indonesia. Tradisi dan budaya yang dekat dengan diri seniman bonsai, berpengaruh pada konsep pengembangan bonsai. Setiap seniman, dengan latar belakang budayanya masing-masing, akan mampu menciptakan garis seninya sendiri.

Karya seni bonsai merupakan perpaduan dari dua ilmu, yakni ilmu ilmiah dan ilmu alamiah. Seni bonsai menggunakan medium berupa tanaman yang merupakan makhluk hidup. Ini merupakan penerapan ilmu yang bersifat ilmiah, yakni ilmu botani. Sementara penerapan ilmu alamiah, karena karya bonsai bergantung pada kreativitas pribadi masing-masing seniman ketika berhadapan langsung dengan alam.

Sejarah Seni Bonsai

Seni bonsai telah mengalami perkembangan dan perjalanan yang panjang. Sebuah karya seni yang semula hanya bisa dinikmati oleh kalangan elite, kini bisa dinikmati oleh semua kalangan. Namun perkembangan dan perjalanan seni bonsai tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya.

Sejumlah pengamat bonsai berpandangan, cikal bakal seni bonsai adalah berawal dari sebuah tradisi sakral di daratan India. Tradisi tersebut adalah tradisi Yajur Weda, salah satu kitab Weda yang membahas tentang ilmu pengobatan. Konon, supaya berumur panjang seseorang dianjurkan untuk menanam pohon tulsi di dalam pot. Tulsi (Ocimum sanctum) merupakan tumbuhan yang paling dihormati dan paling umum dari berbagai jenis tanaman di India yang termasuk di dalam tradisi Hindu. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan nama kemangi.

Di India, daun tanaman tulsi dimanfaatkan sebagai herbal. Air rebusan dari pucuk daun tulsi dipercaya bisa menjaga kesehatan tubuh seseorang agar memiliki umur yang panjang. Proses pemetikan daun tulsi secara spontan-ketika hendak merebusnya, menjadikan pohon tulsi kerdil secara alami. Dalam bahasa sansekerta, tradisi menanam pohon tulsi di dalam pot ini disebut sebagai Vaman Tanu Vrikshadi Vidya.

Tradisi menanam pohon di dalam pot yang berasal dari India kemudian berkembang ke arah timur benua Asia. Beradaptasi dengan lingkungan dan tradisi setempat. Seni botani ini berkembang cukup baik di beberapa tempat, salah satunya di daratan China. Di China, seni menanam pohon di dalam pot ini disebut dengan pencai.

Selain di China, seni botani ini juga berkembang baik di Jepang. Pada masa selanjutnya, orang-orang Jepang lah yang mengenalkan dan mempopulerkan seni menanam pohon di dalam pot ini ke berbagai belahan dunia. Pada masa perkembangan dan pengenalan inilah, seni menanam pohon di dalam pot kemudian disebut sebagai bonsai.

Baca: [ Jenis-Jenis Tanaman untuk Membuat Bonsai ]

Filosofi Bonsai

Filosofi bonsai merupakan dasar dari pemahaman estetika bonsai. Ada sejumlah hal yang perlu dipahami dalam filosofi bonsai, yang paling utama adalah terkait dengan konsep, unsur dan faktor penunjangnya.

Seni bonsai membutuhkan rancang bangun karya seni yang berkaitan sangat erat dengan tata cara pemeliharaan, penataan, dan perawatan pohon berumur panjang di dalam pot atau wadah tertentu. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan harus melewati tahapan-tahapan sesuai dengan konsep bonsai yang diinginkan. Seni bonsai tidak bisa dicipta secara instan, ada proses panjang yang harus dilalui oleh seorang seniman dan membutuhkan ketelatenan tersendiri.

Seni bonsai menggunakan materi atau medium yang merupakan pohon hidup. Setiap pohon memiliki karakter pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing. Karakter inilah yang membentuk pola dan bentuk yang berbeda dari masing-masing tanaman. Perubahan secara alamiah juga mungkin terjadi pada pohon, misalnya seperti kerusakan pada sebagian anatomi pohon. Sifat alamiah dari medium yang digunakan inilah yang menjadikan seni bonsai bersifat dinamis.

Penyusunan sebuah konsep dalam seni bonsai berkaitan dengan fenomena alam, keadaan lingkungan dan budaya setempat. Karya seni bonsai bisa menjadi gambaran dari fenomena alam dan budaya sekitar yang dicerap oleh seniman bonsai dan menampilkannya dalam bentuk miniatur. Meskipun ada campur tangan manusia dalam proses pembentukannya, seni bonsai selayaknya ditampilkan senatural mungkin. Sehingga seni bonsai akan terkesan tumbuh secara alami tanpa ada campur tangan manusia.

Seni bonsai yang baik mampu menampilkan karakteristik tersendiri, dan dapat dicerna oleh rasa dan logika. Karya seni bonsai yang seperti ini sangat membutuhkan kejujuran persepsi dalam menyimak dan menyaksikan kenyataan, baik di luar maupun di dalam diri seniman. Kejujuran inilah yang menjadi landasan bagi seorang seniman menciptakan keindahan seni bonsai yang autentik.

Baca: [ Jenis-Jenis Tanaman untuk Membuat Bonsai (2) ]

Sumber rujukan:

Najoan, Rudy, 2015, Seni Bonsai Indonesia-Teori, Aplikasi dan Apresiasi, Exchange, Banten.

Simak video pilihan kami:

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here