Mengenal Kehidupan Orang Bajo Sebagai “Orang Laut”

0
447
orang bajo
Gambar kampung suku Bajo diambil dari pesona.travel.

Pada masa lampau, Orang Bajo atau masyarakat suku Bajo merupakan suku pengembara laut yang hidup secara nomadik. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di laut menggunakan perahu tradisional yang disebut leppa. Secara turun-temurun Orang Bajo menjalani aktivitas kehidupannya di laut. Berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang lazim menjalani kehidupan di darat.

Orang Bajo memiliki sebutan yang berbeda-beda di sejumlah wilayah. Benny Baskara, dalam Islam Bajo Agama Orang Laut mencatat, masyarakat di wilayah Indonesia timur menyebut mereka dengan sebutan “Orang Bajo”, “Suku Bajo” atau “Bajo”. Sementara di wilayah Indonesia barat, orang Melayu di Riau dan penduduk Sumatera pada umumnya menyebut Orang Bajo sebagai “Orang Laut”, Suku Laut”, atau “Rakyat Laut”. Penyebutan yang sama juga dilakukan oleh masyarakat di Kepulauan Natuna, Malaysia Barat, termasuk di Johor.

Masyarakat di wilayah Sabah dan Tawau di Malaysia timur, juga di Brunei Darussalam dan Filipina menyebut Orang Bajo dengan “Orang Bajau”, “Suku Asli”, “Sama Bajau”, “Sama Dilaut”, “Bajau Laut”, “Orang Samal”, atau “Samal Bajau Laut”. Sementara di wilayah Myanmar dan Thailand, Orang Bajo disebut sebagai “Orang Mawken” atau “Chao Nam”.

Orang Bajo memang tersebar di sejumlah wilayah, tidak hanya di wilayah Indonesia saja. Di Indonesia, sebagian besar Orang Bajo kini telah memilih untuk bermukim di tepi-tepi pantai maupun gugusan karang di sekitar Kepulauan Wakatobi. Kepulauan Wakatobi berada di sebelah tenggara Pulau Buton dan Pulau Sulawesi, termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kepulauan Wakatobi terdiri dari empat pulau besar, yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keempat nama pulau ini jika disingkat menjadi nama Wakatobi.

Kehidupan Orang Bajo

Orang Bajo menghabiskan hampir seluruh hidupnya di laut. Mereka mengembara di lautan menggunakan perahu tradisional yang disebut leppa. Leppa umumnya terbuat dari kayu api atau kayu besi yang panjangnya bisa mencapai tujuh meter. Leppa memiliki atap yang terbuat dari daun nipah atau daun rumbia, dan memiliki dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Di sebelah kanan dan kirinya, leppa memiliki cadik yang berfungsi sebagai penyeimbang. Cadik ini juga berfungsi sebagai tempat menaruh peralatan masak, peralatan menangkap ikan, atau untuk menjemur ikan.

Meskipun sebagian besar dari Orang Bajo kini telah hidup menetap dengan membangun rumah di tepi pantai atau gugusan karang, kehidupan Orang Bajo tidak bisa dilepaskan dari laut. Bagi Orang Bajo, laut adalah kebun milik mereka layaknya kebun milik masyarakat yang tinggal di darat. Laut merupakan sumber kehidupan, bahkan dianggap sebagai pusat atau episentrum kehidupan Orang Bajo.

Orang Bajo meyakini laut sebagai warisan leluhur dari para pendahulu mereka yang merupakan pengembara dan penguasa laut. Orang Bajo percaya roh-roh para nenek moyang mereka lah yang selama ini menjaga laut beserta seluruh kehidupan yang ada di dalamnya, termasuk kehidupan Orang Bajo. Orang Bajo menyebut para nenek moyang yang menjaga laut dengan Mbo Ma Dilao, yang dipercaya sebagai leluhur penjaga lautan.

Baca: [ Mengenal Masyarakat Samin dan Asal-Usul Keberadaannya ]

Kemampuan Berlayar dan Menangkap Ikan

Sebagai Orang Laut, kemampuan utama yang dimiliki oleh Orang Bajo adalah melaut. Kemampuan melaut Orang Bajo tidak hanya sekadar keterampilan untuk berlayar. Orang Bajo memiliki pengetahuan-pengetahuan tentang pelayaran, seperti membaca arah mata angin, perbintangan dan siklus bulan, arus laut, arah angin bertiup, serta cuaca dan musim. Pengetahuan inilah yang menjadikan Orang Bajo dikenal pandai dalam berburu ikan. Mereka bisa mengetahui kemana arah ikan berenang, musim ikan berkumpul, berkembang biak dan bertelur, serta jenis-jenis ikan sesuai dengan musimnya.

Tidak hanya kemampuan berlayar, Orang Bajo juga dikenal dengan kemampuan berenangnya. Bahkan mereka bisa bertahan di dalam air dalam waktu yang lama untuk memburu ikan jenis tertentu menggunakan panah. Kemampuan dan pengetahuan ini, merupakan pengetahuan asli yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang Orang Bajo sampai generasi sekarang.

Adat Orang Bajo

Orang Bajo memiliki sumber nilai-nilai dan tata aturan sosial yang menjadi sistem kehidupan sosial atau adat Bajo. Sebagai Orang Laut, Orang Bajo memiliki larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan, atau disebut pamali yang memiliki kaitan dengan laut sebagai dasar kehidupan Orang Bajo.

Jika ada yang melanggar pamali, maka si pelanggar akan mendapatkan bala, yakni musibah atau halangan yang menimpa si pelanggar sebagai akibat langsung dari perbuatannya. Bala yang menimpa si pelanggar diyakini datang dari para leluhur Orang Bajo, karena telah melanggar adat yang telah menjadi warisan turun-temurun dari para leluhur mereka.

Pamali berlaku pada seluruh aspek kehidupan Orang Bajo, baik tingkah laku, sopan santun, maupun yang menyangkut kehidupan sehari-hari Orang Bajo. Contoh dari pamali yang diyakini oleh Orang Bajo adalah seperti larangan membuang sampah, baik sisa makanan atau barang-barang yang sudah tidak terpakai lainnya langsung ke laut. Orang Bajo juga tidak diperbolehkan berkata kotor, bercanda yang berlebihan atau bertingkah laku yang tidak sopan ketika sedang melaut.

Jika pamali tersebut dilanggar, Orang Bajo bisa tersesat dalam pelayarannya, mengalami hujan dan cuaca buruk, atau pulang dengan tidak membawa hasil tangkapan ikan. Orang Bajo dituntut untuk menghormati laut sebagai sumber kehidupan mereka jika tidak ingin mendapatkan musibah atau halangan.

Baca: [ Dewi Sri, Dewi Kesuburan Potret Feminitas Budaya Nusantara ]

Adat Orang Bajo yang berkaitan erat dengan laut juga meliputi ritual-ritual yang dijalankan oleh Orang Bajo. Ritual-ritual ini seperti ritual kelahiran, ritual potong rambut, ritual sunatan, ritual perkawinan, ritual penyembuhan penyakit, hingga ritual terbesar Orang Bajo, yakni ritual Duata. Jika orang darat mengubur ari-ari bayi yang baru lahir di dalam tanah, Orang Bajo menurunkan atau membuang ari-ari anak mereka di laut. Begitulah Orang Bajo.

Sumber rujukan:

Baskara, Benny, 2016, Islam Bajo Agama Orang Laut, Javanica, Banten.

Simak video pilihan kami:

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here