Membuat Pupuk Organik Cair untuk Pertumbuhan Generatif Tanaman

0
430
gambar ilustrasi pixabay.com

Tanaman membutuhkan nutrisi yang berbeda pada setiap fase pertumbuhannya, karena itu pemberian pupuk atau nutrisi dalam bentuk lainnya harus disesuaikan dengan setiap fasenya. Pemberian nutrisi pada tanaman, baik menggunakan pupuk organik maupun pupuk kimia, umumnya mengacu pada kebutuhan unsur pokok berupa nitrogen (N), fosfor atau fosfat (P), dan unsur kalium (K) atau yang lebih dikenal dengan NPK. Sedangkan kebutuhan unsur lain seperti sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.

Pada fase generatif, setiap tanaman memiliki rentang waktu yang berbeda-beda. Ada jenis tanaman yang memasuki fase generatif kurang dari satu bulan sejak tanam, ada juga yang baru mengalami fase generatif setelah lebih dari satu bulan usia tanam. Bahkan, ada tanaman yang memasuki fase generatif setelah lebih dari satu tahun tanam (tanaman tahunan).

Kebutuhan Nutrisi pada Fase Generatif

Ketika tanaman memasuki masa pembungaan atau pembentukan umbi, kebutuhan terhadap unsur fosfor atau fosfat (P) akan meningkat. Unsur fosfat akan membantu merangsang pertumbuhan akar pada tanaman, sehingga struktur perakaran akan menjadi lebih baik dan daya serap terhadap nutrisi juga membaik. Fosfat juga bermanfaat dalam membantu memaksimalkan pembentukan bunga dan buah, atau pembentukan umbi pada tanaman.

Selain unsur fosfat, pada fase generatif tanaman juga membutuhkan unsur kalium (K). Kalium dibutuhkan untuk mempersiapkan tanaman pada fase pembentukan, pembesaran dan pematangan buah. Pada tanaman yang mengalami kekurangan kalium, buah bisa terbentuk tidak sempurna, berukuran kecil, mudah gugur, hasilnya rendah dan tidak tahan ketika disimpan.

Baca: [ Memahami Pemupukan Tanaman Sesuai Fase Pertumbuhannya ]

Pupuk Organik Cair untuk Fase Generatif

Salah satu bahan yang bisa digunakan untuk membuat nutrisi tanaman pada fase generatif adalah jantung pisang. Jantung pisang merupakan kuntum bunga pisang yang tersisa setelah pembentukan buah pisang terjadi secara sempurna. Jantung pisang memiliki kandungan unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara makro tersebut di antaranya: fosfat dan kalium sebagai unsur hara makro primer, serta kalsium dan magnesium sebagai unsur hara makro sekunder.

Guna mendapatkan kandungan unsur hara yang lebih maksimal, jantung pisang perlu difermentasi terlebih dahulu. Membuat nutrisi atau pupuk organik cair dari jantung pisang membutuhkan bahan utama berupa jantung pisang dan gula merah dengan perbandingan 1:1. Jantung pisang sebaiknya dipetik pada pagi hari ketika embun masih membasahi tanaman. Hal ini bertujuan agar mendapatkan beragam jenis mikroba baik yang masih menempel pada jantung pisang. Gula merah disiapkan menggunakan gula merah organik atau tanpa campuran bahan kimiawi.

Alat dan Bahan

  • 1 kg jantung pisang;
  • 1 kg gula merah;
  • baskom;
  • toples atau wadah fermentasi;
  • kertas buram;
  • pisau.

Sebelum memulai proses pembuatan, sebaiknya semua peralatan telah dicuci bersih atau disterilkan menggunakan alkohol. Hal ini untuk mencegah adanya jamur atau bakteri patogen yang bisa mengganggu proses fermentasi.

Baca: [ Trichoderma: Agen Hayati Penyubur Tanah dan Pembunuh Patogen ]

Cara Membuat

  • Iris jantung pisang menjadi bagian-bagian kecil. Teknik pengirisan jantung pisang adalah searah dengan arah panjangnya, tidak dengan cara memotong jantung pisang;
  • sisir gula merah agar menjadi lebih halus dan mudah terurai;
  • campurkan jantung pisang dan gula merah yang telah diiris ke dalam baskom, kemudian campur secara merata dan remas sampai bahan tersebut mengeluarkan cairan;
  • setelah kandungan airnya keluar cukup banyak, masukkan semua bahan beserta airnya ke dalam toples atau wadah fermentasi yang telah disiapkan;
  • tutup toples menggunakan kertas buram, ikat dengan karet atau tali sampai rapat;
  • pada setiap toples atau wadah yang digunakan, sebaiknya disisakan ruang sekitar 10 persen yang bertujuan untuk memaksimalkan proses fermentasi;
  • simpan toples di tempat yang sejuk dan tidak terkena cahaya matahari langsung;
  • proses fermentasi berlangsung selama 7 hari.

Cara Menggunakan

Setelah proses fermentasi berhasil, buka toples dan lakukan penyaringan untuk memisahkan larutan hasil fermentasi dengan ampasnya. Larutan yang telah jadi, bisa digunakan dengan cara menyiramkannya pada media tanam atau dengan cara penyemprotan pada bagian batang dan daun tanaman. Penggunaannya dicampur dengan air menggunakan perbandingan 1:500, atau setiap 2 ml larutan dicampur dengan 1 liter air.

Simak video pilihan kami:

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here